Kamis, 29 Oktober 2009

KOMPOSISI DAN KEANEKARAGAMAN VEGETASI STRUKTUR POHON PADA TAMAN WISATA ALAM TIRTA RIMBA WOLIO KOTA BAU-BAU PROVINSI SULAWESI TENGGARA

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pulau Sulawesi merupakan salah satu dari 3 pusat keanekaragaman hayati utama di Indonesia. Proses pembentukannya yang unik tertuang dalam garis imaginer Wallacea menempatkan keanekaragaman hayati kawasan ini berbeda dengan keanekaragaman hayati tipe Asia dan Australia. Keunikan keanekaragaman hayati di Sulawesi, terutama di pulau-pulau kecil yang ada di sekitarnya belum semuanya terungkap. Demikian pula dengan pemanfaatan tumbuhan sebagai bagian budaya masyarakat lokal belum banyak diketahui. Pemilihan pulau-pulau kecil sebagai lokasi eksplorasi dan penelitian dengan pertimbangan antara lain pulau-pulau kecil diduga memiliki kekayaan keanekaragaman yang tinggi (Anonim, 2006).
Taman Wisata Alam Tirta Rimba Wolio seluas 488 ha, telah ditetapkan sebagai Taman Wisata Alam dengan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 440/Kpts-II/1994 pada tanggal 5 Oktober 1994 Proses penetapannya diawali pengusulan oleh Gubernur Provinsi Sulawesi Tenggara dengan Rekomendasi No. Pta. 4/I/14 tanggal 8 Desember 1976, yang ditindaklanjuti dengan surat Dirjen Kehutanan kepada Menteri Pertanian dengan nomor 2256/DJ/I/1978 tanggal 15 Juli 1978. Menteri Pertanian kemudian menunjuk kompleks Taman Wisata Alam Tirta Rimba Wolio seluas ± 448 ha sebagai hutan/taman wisata pada tanggal 24 Juli 1978 dengan Keputusan No. 459/Kpts/Um/7/1978. Setelah diadakan tata batas (Berita Acara Tata Batas disahkan pada tanggal 24 Maret 1987), luasnya berubah menjadi 488 ha (Anonim, 2006).
Kawasan Taman Wisata Alam Tirta Rimba Wolio, terdapat komunitas hutan seluas 488 ha. Sampai saat ini belum ada informasi lebih detail tentang komunitas hutan taman wisata alam tirta rimba wolio. Untuk itu perlu dilakukan penelitian untuk memperoleh informasi tentang komposisi dan keanekaragaman vegetasi khususnya pada tingkatan pohon serta jenis yang terdapat pada kawasan hutan taman wisata alam tirta rimba wolio sebagai langkah awal yang dapat dijadikan ‘base data’ dalam kegiatan konservasi.
B. Rumusan Masalah
Masalah dalam penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut : bagaimana komposisi dan keanekaragaman vegetasi struktur pohon pada Taman Wisata Alam Tirta Rimba Wolio Kota Bau-Bau, Provinsi Sulawesi Tenggara.
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi dan keanekaragaman vegetasi struktur pohon pada Taman Wisata Alam Tirta Rimba Wolio Kota Bau-Bau, Provinsi Sulawesi Tenggara.

D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah :
1. Sebagai bahan informasi ilmiah bagi instansi dalam pengelolaan dan pengembangan jangka panjang Taman Wisata Alam Tirta Rimba Wolio.
2. Pembanding untuk penelitian-penelitian selanjutnya yang relevan dengan penelitian ini.
3. Melatih diri penulis untuk mengemukakan pendapat dan buah pikiran dalam tulisan sebagai layaknya suatu karya ilmiah.


II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Komposisi Tumbuhan
Komposisi tumbuhan merupakan susunan dan jumlah jenis yang terdapat dalam suatu komunitas (Polunin, 1990). Komposisi suatu tumbuhan pada setiap ekosistem dapat bervariasi, bergantung pada kondisi habitatnya. Lebih lanjut, Polunin (1990) menyatakan bahwa tumbuhan hanya dapat hidup di tempat yang sesuai bagi jenis tumbuhan tersebut. Jenis tumbuhan yang berbeda akan memerlukan kondisi yang berbeda pula. Berdasarkan pendapat tersebut tampak jelas bahwa kondisi setempat merupakan faktor utama dalam membatasi penyebaran jenis tumbuhan tertentu.
Kompisisi vegetasi merupakan salah satu konsep yang cukup penting dalam kajian ekologi tumbuhan. Odum (1993) menyatakan suatu komunitas, dan kestabilan ini dapat terjadi apabila ada keseimbangan antara jenis penyusun komunitas dengan lingkungan.
Untuk menggambarkan komposisi suatu komunitas tumbuhan, dapat dikaji melalui beberapa parameter komunitas, seperti jumlah jenis dan nilai penting. Untuk menentukan nilai penting, diperlukan indikator komunitas lain, yaitu densitas, frekuensi, dominasi dan nilai relatif masing-masing parameter tersebut.


Dikenal ada beberapa teknik sampling untuk mengkaji komposisi vegetasi dalam suatu komunitas, seperti tekhnik plot dan tanpa plot. Tekhnik tertentu yang dipilih hendaknya memenuhi beberapa persyaratan dan disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai. Pemilihan suatu teknik tertentu juga harus memperhatikan tingkat keakuratan dan juga penting dipertimbangkan waktu dan tenaga yang tersedia (Hardjosuwarno, 1990).
B. Struktur Vegetasi Hutan
Hutan merupakan sistem yang hidup dan tumbuh, yang bersifat dinamis. Komunitas hutan terbentuk berangsur-angsur melalui beberapa tahap invasi oleh tumbuh-tumbuhan, adaptasi, agregasi, persaingan, penguasaan dan reaksi terdapat tempat tumbuh serta stabilitas. Proses ini dikenal sebagai suksesi tumbuhan. Selanjutnya terjadi pergantian vegetasi hutan sehingga terbentuk proses suksesi berlangsung, tercapai stabilitas atau keseimbangan dinamis dengan komunitas hutan yang disebut vegetasi klimaks (Richard, 1952 dalam Junus, dkk. 1984). Lebih lanjut dikemukakan bahwa dalam komunitas hutan yang telah stabil pun selalu terjadi perubahan-perubahan, seperti terjadi kematian pohon-pohon, munculnya anakan-anakan baru yang secara keseluruhan merupakan gambaran dinamika vegetasi.
Vegetasi terdapat berbagai jenis tumbuhan di seluruh wilayah atau daerah. Suatu tipe vegetasi menggambarkan suatu daerah dari segi penyebaran tumbuhan, baik berdasarkan ruang maupun waktu. Ekosistem rawa, ekosistem hutan, ekosistem lamun pada laut dangkal, dan padang rumput dapat dijadikan suatu contoh tipe vegetasi. Suatu tipe vegetasi kadang kala dibagi lagi ke dalam beberapa komunitas seperti jenis predominan, disebut asosiasi yaitu sekumpulan beberapa jenis tumbuhan yang tumbuh bersama-sama di suatu lingkungan. Komunitas tumbuhan biasanya ditandai oleh jenis-jenis yang dominan (Odum, 1993).
Vegetasi terbentuk oleh atau terdiri atas semua jenis tumbuhan dalam suatu wilayah (flora) dan memperhatikan pola distribusi menurut ruang (spatial) dan waktu (temporal). Vegetasi menggambarkan perpaduan berbagai jenis tumbuhan di suatu daerah atau wilayah. Jika suatu wilayah berukuran luas, vegetasinya terdiri atas beberapa bagian vegetasi atau komunitas tumbuhan yang menonjol, sehingga terdapat berbagai tipe vegetasi. Tiap tipe vegetasi bercirikan oleh bentuk pertumbuhan dan tumbuhan karakteristik. Contoh bentuk pertumbuhan termasuk herba tahunan, pohon selalu hijau berdaun lebar, semak yang merangsang pada waktu kering, tumbuhan dengan umbi atau rhizome, tumbuhan selalu hijau berdaun jarum, rumput menahun, dan semak kerdil (Hardjosuwarno, 1990).
Hilangnya vegetasi dapat mengubah kimiawi tanah, sehingga sebagian hara kurang terikat dengan partikel-partikel tanah tercuci, maka dapat diketahui bahwa pengrusakan vegetasi tidak saja meninggatkan erosi oleh angin dan air. Tetapi juga ketandusan akibat hilangnya kesuburan tanah yang tertinggal (Suwarsono, 1986).
Setiap komunitas tumbuhan yang stabil mempunyai susunan vertikal atau stratifikasi jenis-jenis. Kesan ini cocok bagi pinggiran hutan dimana penyinaran yang kuat mengakibatkan bagian tepi sangat lebar, tetapi bagian dalam hutan dapat dilihat dari pinggir (misalnya batas tepi hutan yang mendadak karena penebangan baru) akan terlihat bahwa hutan dapat dibagi menjadi lima lapisan atau lebih yang cukup jelas dan secara konvensional diberi nama lapisan A sampai E (Richard, 1952 dalam Junus, dkk., 1984).
1. Lapisan pohon dengan tinggi lebih dari 30 meter (lapisan A). Lapisan ini membentuk kanopi bagi lapisan di bawahnya. Atau mungkin juga diwakili oleh pohon-pohon yang menyendiri atau mencuat (emergent) di atas kanopi semua.
2. Lapisan pohon dengan tinggi 20-30 meter (lapisan B) yang merupakan lapisan kurang memerlukan cahaya atau tahan naungan.
3. Lapisan pohon-pohon kecil dengan tinggi 4-20 meter (lapisan C). Banyak diantara lapisan pohon-pohon pada lapisan ini adalah anakan jenis-jenis pohon-pohon kecil mencirikan lapisan ini.
4. Lapisan perdu (lapisan D) yang terdiri atas perdu, pohon-pohon muda, terna tinggi, dan paku-pakuan besar. Tinggi rata-rata 1- 4 meter.
5. Lapisan permukaan tanah (lapisan E) yang biasanya terdiri atas terna dan perdu-perdu kecil yang jarang dengan tinggi kurang dari 1 meter.
Dansereau (1957) dalam Muller – Dombois dan Ellenberg (1974) mengemukakan bahwa ekologi vegetasi paling sedikit membagi struktur vegetasi dalam 5 level yaitu : (1) fisiognomi vegetasi, (2) struktur biomassa, (3) struktur bentuk hidup, (4) struktur floristik, dan (5) struktur tegakan, sedangkan Kershaw dan Looney (1985) membedakan struktur vegetasi menjadi 3 komponen yaitu :
1. Struktur vertikal, meliputi tingkat pertumbuhan jenis-jenis tumbuhan mulai dari tingkat anakan sampai tingkat pohon.
2. Struktur horizontal (distribusi spatial populasi jenis dan individu), yaitu individu yang pertumbuhannya menyebar pada kawasan tersebut.
3. Struktur kuantitatif meliputi kelimpahan atau keanekaragaman jenis, dengan distribusi dari masing-masing jenis yang mencakup densitas, frekuensi, dominansi dan sebagainya.
C. Komunitas
Komunitas merupakan unit dasar penyusun suatu vegetasi yang didefinisikan sebagai kumpulan organisme hidup yang saling berinteraksi baik diantara organisme maupun dengan lingkungannya (Oosting, 1956 dalam Analuddin, 1997).
Menurut Odum (1993) bahwa komunitas biotik adalah kumpulan berbagai populasi yang hidup dalam daerah atau habitat fisik, serta merupakan satu kesatuan yang teratur dan mempunyai sifat-sifat tambahan terhadap komponen-komponen individu dan fungsi-fungsi sebagai unit transformasi metabolik yang berinteraksi. Lebih lanjut, Dansereau (1957) dalam Muller - Dombois dan Ellenberg (1974) mengemukakan bahwa komunitas tumbuhan sebagai organisme secara spatial dan temporal dengan perbedaan integrasi.
Komunitas tumbuhan adalah satuan atau unit yang membentuk suatu vegetasi. Komunitas terbentuk tidak sekedar persatuan tumbuhan secara acak yang hanya berdasarkan kesempatan semata-mata, tetapi komunitas tumbuhan berupa suatu organisme kompleks dengan komposisi floristik secara tipikan dengan sistem morfologi tertentu, serta merupakan hasil interaksi populasi jenis menurut waktu yang lama (Hardjosuwarno, 1989).
Di luar pengaruh interaksi dalam komunitas, tumbuh-tumbuhan saling memberi tempat, habitat dan lingkungan secara bersama. Jadi integrasi dalam komunitas adalah fenomena yang telah terbentuk dengan perbedaan tingkat organisme komunitas yang terintegrasi baik, mempunyai resistansi tertentu terhadap goncangan lingkungan, serta perubahan lingkungan spesifik yang juga dapat menyebabkan tanggapan yang dapat dilihat dalam suatu komunitas (Hardjosuwarno, 1989).
Alechin (1927) dalam Muller-Dombois dan Ellenberg (1974) membedakan dua cara menentukan komunitas tumbuhan di lapangan yaitu : (a) tumbuhan dapat membentuk kelompok terbuka, dan (b) tumbuhan dapat membentuk kelompok tertutup. Dalam bentuk kelompok tertutup peneliti dapat membedakan penempatan tanpa integrasi tegakan murni secara temporal atau permanen. Lebih lanjut dijelaskan bahwa komunitas termasuk dalam tegakan populasi campuran yang terdapat dalam bentuk tertutup.
Komunitas tumbuhan terdiri atas unit-unit atau tegakan. Tegakan merupakan unit agak homogen yang dapat dibedakan dengan jelas oleh komposisi, umur, struktur, tempat tumbuhan, atau geografi. Barbour et al, (1999) mengemukakan bahwa tegakan merupakan tempat atau lokasi suatu penelitian dilakukan.
Struktur tegakan dapat dilihat berdasarkan perbedaan beberapa hal antara lain struktur umur atau stadium perkembangan. Struktur umur populasi dapat dikelompokkan berdasarkan ukuran kelas, kelas tinggi untuk herba dan semai serta kelas diameter untuk diameter pohon. Struktur umur suatu tegakan dengan umur yang sama dapat didasarkan pada beberapa kriteria seperti diameter batang. Pendekatan yang sama dapat dilakukan pada stand tidak seumur, namun individu-individu yang tertua tidak lebih besar atau dominan setara (Smith, 1990 dalam Analuddin, 2002).
D. Faktor-Faktor Habitat
Supaya tumbuhan dapat tumbuh dengan berhasil pada suatu lingkungan tertentu, maka lingkungan harus mampu menyediakan berbagai keperluan untuk pertumbuhan dan perkembangan. Oleh karena itu sifat-sifat suatu lingkungan tidak hanya bergantung kepada kondisi fisik dan kimia tetapi juga pada kehadiran organisme-organisme lain. Beberapa faktor lingkungan yang berperan penting yaitu :
1. Faktor iklim. Iklim dapat menentukan jenis vegetasi dan fauna yang hidup di suatu daerah. Sebagai contoh, di daerah khatulistiwa pada daerah tropik basah terdapat vegetasi dengan daun yang lebat dan selalu hijau, dan pada daerah iklim musim terdapat jenis-jenis yang menggugurkan daunnya. Sedangkan pada daerah iklim kering terdapat savana berkayu.
2. Faktor tanah. Tanah adalah tempat pohon-pohon tumbuh mempertahankan diri dengan menggunakan perakarannya untuk berpijak dan mengambil air serta zat makanan dalam tanah. Penyusun tanah sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman, seperti air tanah, unsur hara, bahan organik, organisme hidup dan udara dalam tanah.
3. Faktor biotik. Faktor biotik yang ditimbulkan oleh makhluk hidup baik hewan maupun tumbuhan seperti kompetisi, mutualisme, dan berbagai bentuk interaksi lain yang ke semuanya ini terjadi di dalam suatu vegetasi alam yang sangat mempengaruhi keadaan vegetasi setempat.
4. Faktor angin. Angin pada umumnya mempengaruhi faktor-faktor ekologi lainnya, pengaruh langsung pada vegetasi terutama dengan menumbuhkan pohon-pohon atau mematahkan dahan pohon. Angin berpengaruh terhadap tanah, biasanya bersifat mengeringkan atau kadang-kadang dengan arah berlawanan, yaitu membawa udara yang dapat menurunkan transpirasi dan evaporasi (Richard, 1952 dalam Junus, dkk, 1984).


E. Penilaian Kelimpahan dan Keanekaragaman Jenis
Dalam komunitas alami biasanya ada beberapa jenis yang melimpah dan ada jenis yang jarang, walaupun polanya tetap namun akan berbeda apabila populasi itu diperbandingkan. Loveless (1987) menyatakan bahwa komunitas merupakan suatu pengelompokkan acak dari populasi. Suatu lokasi dengan banyak objek yang tidak identik nampak secara statistik berstruktur, bahkan berbeda secara acak dan tidak berinteraksi.
Adanya beberapa keterbatasan dalam penafsiran kelimpahan secara visual maka metode kuantitatif dengan maksud untuk menghilangkan pertimbangan subjektif pengamat. Metode kuantitatif untuk menilai kelimpahan berpijak pada pengamatan kelimpahan yang sesungguhnya dalam sejumlah cuplikan (contoh) luas komunitas dan kemudian hasilnya digunakan untuk menaksir kelimpahan dalam komunitas secara keseluruhan. Sejalan dengan hal ini, Loveless (1989) menyatakan bahwa karena cuplikan-cuplikan yang dianggap mewakili keseluruhan komunitas maka cuplikan tersebut harus diambil secara acak. Metode pencuplikan secara acak diterapkan untuk menghilangkan kecenderungan yang disengaja atau tidak disengaja.
Lebih lanjut Loveless (1989) menyatakan bahwa ada tiga metode yang biasanya dipakai untuk menyatakan kelimpahan secara kuantitatif dan nama yang harus digunakan tergantung pada tujuan atau untuk apa informasi itu diperlukan dan waktu yang tersedia untuk pencuplikan vegetasi. Ketiga metode adalah :

1. Kerapatan
Kerapatan (densitas) suatu jenis adalah jumlah individu rata-rata persatuan luas. Kerapatan dihitung dengan menghitung jumlah individu setiap jenis dalam kuadrat yang luasnya ditentukan. Kemudian perhitungan ini dilanjutkan di tempat-tempat yang tersebar secara acak. Hasil-hasil dari semua kuadrat ini dijumlahkan dan dihitung kerapatan untuk setiap jenis.
2. Persentase Penutupan
Persentase penutupan didefinisikan sebagai persentase tanah yang ditutupi oleh bagian tumbuhan tertentu yang ada di atas tanah. Sifat penutupan ini dengan mudah dapat dipahami dengan mengatakan bahwa apabila suatu komunitas yang terdiri atas bagian permukaan tanah yang ditutup oleh bayangan yang merupakan penutup atas jenis tersebut.
3. Frekuensi
Frekuensi ditentukan dengan mencatat kehadiran dan ketidak hadiran (bukan jenis individu) suatu jenis dalam sederetan kuadrat yang disebar secara acak. Jumlah jenis dalam suatu komunitas disebut kekayaan jenis (jenis richenes) tidak cukup meletakkan keanekaragaman karena sama pentingnya dengan kelimpahan relative “relative abundance” dari masing-masing populasi.


III. METODE PENELITIAN
A. Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan selama satu bulan mulai bulan Februari sampai Maret 2007. Lokasi penelitian pada Kawasan Taman Wisata Alam Tirta Rimba Wolio Kota Bau-Bau, Provinsi Sulawesi Tenggara.
B. Alat
Alat yang digunakan dalam penelitian ini disajikan pada Tabel 1 :
Tabel 1. Alat yang Digunakan Serta Fungsinya
No. Nama Alat Kegunaan/Fungsi
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

8.
9.

10. Meter rool 100 m
Tali rapia, patok dan parang
Kompas
Spidol
Termometer
Altimeter
Soil tester

Hygrometer
GPS

Meter kain Pengukur area kajian
Pembuatan plot pengamatan
Menentukan jalur transek
Menandai sampel
Untuk mengukur suhu
Mengukur ketinggian tempat
Untuk mengukur pH dan kelembaban tanah
Mengukur kelembaban udara
Untuk menentukan koordinat lokasi penelitian
Untuk mengukur lingkaran pohon



C. Variabel, Definisi Operasional dan Indikator Penelitian
1. Variabel
Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah komposisi dan keanekaragaman vegetasi struktur pohon pada kawasan Taman Wisata Alam Tirta Rimba Wolio Kota Bau-Bau, Provinsi Sulawesi Tenggara.
2. Definisi Operasional
a. Komposisi vegetasi adalah susunan dan jumlah jenis tumbuhan yang terdapat pada kawasan Taman Wisata Alam Tirta Rimba Wolio Kota Bau-Bau, Provinsi Sulawesi Tenggara.
b. Keanekaragaman vegetasi adalah jumlah jenis dan individu tiap jenis tumbuhan struktur pohon, dengan menggunakan nilai indeks Shanon- Wiener.
3. Indikator Penelitian
Indikator penelitian yang diamati meliputi jumlah jenis, densitas, densitas relatif, frekuensi, frekuensi relatif, dominansi, dominansi relatif dan indeks nilai penting serta indeks keanekaragaman.
D. Sampel Penelitian
Sampel yang diamati dalam penelitian ini adalah semua golongan pohon yang terdapat dalam plot pengamatan pada kawasan Taman Wisata Alam Tirta Rimba Wolio Kota Bau-Bau, Provinsi Sulawesi Tnggara.
E. Prosedur Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis penelitian survey. Suryabrata (1986) menyatakan bahwa penelitian survey digunakan untuk membuat pencandraan secara sistematis dan faktual mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau daerah tertentu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode transek garis. Alasan dipilihnya metode ini, karena selain cukup sederhana juga dapat mencapai tujuan yang hendak dicapai.
Tahapan pelaksanaan penelitian yaitu :
1. Pembuatan garis transek
Dalam kajian ini, jalan poros dianggap sebagai acuan dalam pembuatan garis transek yang terdiri atas 4 transek. Transek I berbatasan dengan lahan perkebunan masyarakat. Transek II dan III terletak di tengah kawasan. Sedangkan transek IV berbatasan dengan perkebunan masyarakat. Panjang garis transek dari jalan poros ke arah dalam ± 1000 m dengan jarak antara tansek ± 250 m.
2. Pembuatan plot pengamatan
Plot pengamatan diletakkan di sisi kiri dan kanan (zig-zag) sepanjang garis transek. Jumlah plot untuk setiap transek sebanyak 15 buah plot dengan jarak plot satu dengan yang lainnya yaitu ± 20 meter yang terdiri atas 3 blok yang diletakan pada bagian tengah dan masing-masing ujung transek dengan jarak tiap blok plot pengamatan ± 250 meter. Dengan demikian total plot untuk empat transek adalah sebanyak 60 plot.
Ukuran plot yang digunakan dalam penelitian ini adalah 20 x 20 meter untuk pohon, Contoh garis transek dan plot-plot pengamatan disajikan pada Gambar 1.














Keterangan Gambar :
A : Plot
B : Garis transek

Gambar 1. Bagan Peletakan Transek dan Plot-Plot Pengamatan

3. Pengambilan Data
Diameter batang diperoleh dari hasil pengukuran keliling batang kemudian dibagi dengan Phi (π) dinyatakan dalam cm (π = 3,14). Pengukuran keliling batang pohon masing-masing jenis diukur pada ketinggian 130 cm dari permukaan tanah. Bagi pohon yang mempunyai akar banir pengukuran dilakukan pada garis 30 cm di atas banir. Sedangkan pohon yang bercabang, jika percabangan di atas 130 cm dianggap 1 pohon, jika dibawah 130 cm dianggap 2 pohon (Martikainen, 2000). Dalam pengambilan data dilakukan pencatatan nama jenis dengan menggunakan nama ilmiah jika tumbuhan telah diidentifikasi/teridentifikasi dan nama daerah untuk keperluan identifikaksi lebih lanjut, dengan menggunakan buku indentifikasi.
4. Pengukuran Parameter Lingkungan
Pengukuran parameter lingkungan dilakukan untuk mengetahui beberapa faktor lingkungan yaitu, derajat keasaman (pH), kelembaban tanah, kelembaban udara, suhu dan ketinggian tempat, pada lokasi pada kawasan Taman Wisata Alam Tirta Rimba Wolio Kota Bau-bau Provinsi Sulawesi Tenggara.

F. Teknik Analisis data
Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif, yaitu mendeskripsikan setiap parameter vegetasi yang diamati dengan mengacu pada rumus yang dikemukakan oleh Cox (1971) dalam Hardjosuwarno (1989) sebagai berikut:
1. Densitas


2. Densitas Relatif


3. Frekuensi


4. Frekuensi Relatif

5. Dominansi
Dominansi untuk strata pohon




dimana: d = diameter batang
= 3,14



6. Indeks Nilai Penting

7. Indeks keanekaragaman menurut Shannon-Winner (1949) dalam Soegianto (1994), dengan rumus sebagai berikut:
H’ = - Σ (pi) (Lnpi) dimana pi =
Dengan :
H′ = Indeks keanekaragaman Shannon-Winner
ni = Jumlah individu lamun ke-i
N = Jumlah total individu lamun
Dimana :
Jika H' ≤ 1 = Sangat rendah
H' > 1 – 2 = Rendah
H' > 2 – 3 = Sedang
H' > 3 – 4 = Tinggi
H' > 4 = Sangat tinggi


IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum
Penetapan hutan Tirta Rimba sebagai taman wisata alam adalah karena kawasan hutan Tirta Rimba merupakan habitat satwa liar yang dilindungi, serta memiliki potensi wisata yang cukup tinggi berupa air terjun, kolam permandian, dan pantai yang indah. Letaknya yang dekat dengan Kota Bau-Bau menciptakan prospek yang cerah untuk dikembangkan menjadi tempat wisata. Secara administratif Kehutanan termasuk wilayah RPH Wolio, BKPH Buton Barat, KPH Buton. Sampai saat ini pengelolaannya di bawah Resort KSDA Tirta Rimba, Sub Seksi KSDA Buton. (Anonim, 2006 ).
Secara geografis TWA Tirta Rimba Wolio terletak di antara 4°29' - 4°30' LS dan 122°38' - 122°40' BT, secara administratif pemerintahan termasuk dalam wilayah Kelurahan Kadolomoko, Waruruma, dan Kadolo Katapi, Kecamatan Wolio, Kota Bau-Bau Provinsi Sulawesi tenggara.
B. Kondisi Lingkungan
Hasil pengamatan kondisi lingkungan dengan parameter derajat keasaman (pH), kelembaban tanah, kelembaban udara, suhu dan ketinggian tempat, pada lokasi hutan Taman Wisata Alam Tirta Rimba Kota Bau-Bau disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Data Parameter Lingkungan
No. Transek Kelembaban tanah (%) Kelembaban udara (%) pH tanah Suhu (ºC) Ketinggian tempat (mdpl)
1.
2.
3.
4. I
II
III
IV 35
35
35
35 86
87
85
85 6,5
6
6,5
6,5 27
26
27
26
80

Rata-rata 35 85,75 6,37 26,5

Berdasarkan Tabel 2, menunjukkan bahwa rata-rata kelembaban tanah pada saat penelitian yaitu 35 %, rata-rata kelembaban udara yaitu 85,75 %, rata-rata pH tanah yaitu 6,37, suhu udara rata-rata yaitu 26,5 ºC dan lokasi penelitian berada pada ketinggian 80 m dpl.
C. Kompiosisi Vegetasi Struktur Pohon pada Taman Wisata Alam Tirta Rimba Wolio Kota Bau-Bau Provinsi Sulawesi Tenggara
1. Komposisi Vegetasi Struktur Pohon
Hasil penelitian, diperoleh 26 jenis tumbuhan struktur pohon. Komposisi jenis yang ditemukan diseluruh area kajian disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3. Komposisi Vegetasi Struktur Pohon Pada Area Hutan Tirta Rimba Wolio
No. Nama Daerah
(Wolio) Nama Latin Total Individu Jumlah Individu
T1 T2 T3 T4
1 2 3 4 5 6 7 8
1. Katatolowe Barringtonia racemosa 118 35 63 13 7
2. Beringin Ficus benyamina 37 11 8 9 9
3. Sali-Sali Arthocarpus teysmani 54 12 10 5 27
4. Teo Arthocarpus elastic 44 7 5 24 8
5. Korope Mischocarpus sundaicus 8 6 - - 2
1 2 3 4 5 6 7 8
6. Kogu-kogu Ficus septica 2 2 - - -
7. Lea Neuburgia selebica 5 4 1 - -
8. Lumbai Carinarium balsamiferum 3 1 2 - -
9. Kengkeluwa Bischafia javanica 2 2 - - -
10. Kabungka-bungka Diospyros ellipticafollia 14 9 - 5 -
11. Polili Querqus abendani 13 9 2 - 2
12. Mewu Planchoina valida 3 3 - - -
13. Lolo Pipta fagifola 5 5 - - -
14. Bale Crytocarya 11 8 - 2 1
15. Dongkala Nauclea orientalis Merr. 8 4 - 2 2
16. Bale-Bale Eugenia sp. 3 2 - 1 -
17. Golongkolio Timonius sp. 5 3 - 2 -
18. Katapi Sandroricum koefjapa 1 - 1 - -
19. Longkida Mertosideros petiolata 5 - 3 - 2
20. Sioh Evodia speciosa 1 - 1 - -
21. Ninifo Mangifera indica 2 1 1
22. Jati Hutan Tectona grandis 2 - - 2 -
23. Kabuka Malanolepis multiglandulosa 4 - - 4 -
24. Campana Cerbera manghas 4 - - 2 2
25. Rinda Gironniera sunaqualis 2 1 - - 1
26. Bangkudu Fagteae recemosa 1 - - 1 -


Berdasarkan tabel 3, nampak bahwa komposisi jenis tumbuhan struktur pohon yang terdistribusi di seluruh area hutan taman wisata alam mempunyai komposisi tumbuhan yang beragam.
Masing-masing jenis pada area hutan kawasan TWA Tirta Rimba Wolio memiliki jumlah individu yang berbeda-beda. Pada tansek I terdapat 18 jenis tumbuhan, transek II terdapat 11 jenis tumbuhan, transek III terdapat 14 jenis tumbuhan, dan pada transek IV terdapat 11 jenis tumbuhan yang tergolong pada struktur pohon. Jenis Katatolowe (Barringtonia racemosa) merupakan tumbuhan yang ditemukan sedangkan jenis lainnya hanya ditrmukan pada beberapa plot, yang disajikan pada (Lampiran 1, 2 dan 3). Hal ini dipengaruhi oleh perubahan kondisi lingkungan atau habitat yang mengakibatkan ketidakhadiran jenis-jenis tertentu yang ada pada area hutan taman wisata alam. Sebagaimana Bazzaz dan Pickett (1980) mengemukakan bahwa komposisi komunitas senantiasa bervariasi dari setiap tempat ke tempat yang lain karena setiap jenis menanggapi setiap perubahan yang terjadi dalam lingkungannya.
Pada area Hutan Taman Wisata Alam Tirta Rimba Wolio, jenis yang memiliki kerapatan atau densitas reatif (DR) tertinggi, frekuensi relatif (FR) tertinggi, dominansi relatif (DR) tertinggi, dan nilai penting (NP) tertinggi diduduki oleh jenis Barringtonia racemosa (Katatolowe), dengan nilai DR = 31,806 %, FR = 18,436 % , DR = 16, 556 % dan INP = 66,797 %. Distribusi kerapatan relatif, frekuensi relatif, dominansi relatif, dan nilai penting vegetasi struktur pohon di Hutan Taman Wisata Alam Tirta Rimba Wolio disajikan pada Tabel 4, dan hasil perhitungan secara lengkap disajikan pada Lampiran 2.
Tabel 4 : Distribusi Kerapatan Relatif, Frekuensi Relatif, Dominansi Relatif, Dan Nilai Penting Struktur Pohon pada Hutan Taman Wisata Alam Tirta Rimba Wolio

No Nama Latin ∑ Ind D
(Ind/m2 ) DR % F FR % D DR % INP %
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1 Barringtonia racemosa 118 0,0049167 33,15 0,60 18,85 8,08 31,50 83,50
2 Arthocarpus teysmani 54 0,0022500 15,17 0,40 12,57 2,75 10,71 38,44
3 Arthocarpus elastic 44 0,0018333 12,36 0,45 14,14 2,97 11,56 38,06
4 Ficus benyamina 37 0,0015417 10,40 0,42 13,09 5,96 23,22 46,70
5 Diospiros ellipticafollia 14 0,0005833 3,93 0,13 4,19 0,62 2,41 10,54
6 Querqus abendani 13 0,0005417 3,65 0,13 4,19 0,33 1,28 9,12
7 Crytocarya 11 0,0004583 3,09 0,08 2,62 0,30 1,17 6,88
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
8 Mischocarpus sundaicus 8 0,0003333 2,25 0,10 3,14 0,50 1,95 7,34
9 Neuclea orientalis Merr. 7 0,0002917 1,97 0,08 2,62 0,51 1,98 6,57
10 Timonus sp. 5 0,0002083 1,40 0,05 1,57 0,11 0,42 3,40
11 Neuburgia selebica 5 0,0002083 1,40 0,07 2,09 0,17 0,68 4,18
12 Neuclea orientalis 5 0,0002083 1,40 0,08 2,62 1,68 6,56 10,58
13 Pipta fogifola 5 0,0002083 1,40 0,07 2,09 0,20 0,78 4,28
14 Melanolepsis multiglandilosa 4 0,0001667 1,12 0,03 1,05 0,21 0,80 2,97
15 Carbera manghas 4 0,0001667 1,12 0,08 2,62 0,14 0,56 4,30
16 Ficus septic 2 0,0000833 0,56 0,02 0,52 0,06 0,25 1,33
17 Planchoina valida 3 0,0001250 0,84 0,03 1,05 0,18 0,71 2,60
18 Carinarium balsamiferum 3 0,0001250 0,84 0,03 1,05 0,06 0,22 2,11
19 Evodia speciosa 1 0,0000417 0,28 0,02 0,52 0,13 0,52 1,32
20 Gironniera sunaqualis 2 0,0000833 0,56 0,02 0,52 0,07 0,26 1,34
21 Mangivera indica 2 0,0000833 0,56 0,02 0,52 0,05 0,18 1,26
22 Fagteae racemosa 1 0,0000417 0,28 0,02 0,52 0,02 0,08 0,89
23 Tectona grandis 2 0,0000833 0,56 0,02 0,52 0,03 0,13 1,21
24 Eugunia sp 3 0,0001250 0,84 0,02 0,52 0,24 0,92 2,29
25 Bischafia javanica 2 0,0000833 0,56 0,017 0,52 0,06 0,22 1,31
26 Sandoricum koefjapa 1 0,0000417 0,28 0,016 0,52 0,24 0,93 1,74
Jumlah 356 0,0148333 100 300 100 25,65 100 300


Berdasarkan Tabel 4, untuk menggambarkan dominansi masing-masing jenis digunakan Indeks Nilai Penting (INP). Curtis (1959) dalam Affandi (1996) menyatakan bahwa indeks nilai penting merupakan penjumlahan dari beberapa parameter dan nilainya dapat digunakan menggambarkan tingkat dominansi dalam komunitas tumbuhan. Dimana semakin besar indeks nilai penting maka tingkat dominansinya akan semakin tinggi, sebaliknya semakin kecil indeks nilai penting maka tingkat dominansinya juga semakin rendah.
Berdasarkan Tabel 4, tampak bahwa dari segi jumlah pohon, penyebaran pohon, dan ukuran diamater batang, jenis Barringtonia racemosa (Katatolowe) menempati urutan yang tertinggi. Ini menunjukkan bahawa jenis Barringtonia racemosa memiliki daya toleransi terhadap faktor lingkungan yang cukup tinggi. Kusmantono (1996) menjelaskan bahwa jenis yang memiliki indeks nilai penting tinggi tampaknya daya toleransi terhadap faktor lingkungan setempat sangat baik. Lebih lanjut Barbour et al. (1999) menjelaskan bahwa jenis yang memiliki indeks nilai penting terbesar dapat memberikan kontribusi terbesar di dalam komunitas itu sebaliknya jika jenis yang memiliki indeks nilai penting terendah kurang memberikan kontribusi dalam komunitas.
Apabila terjadi gangguan pada populasi Barringtonia racemosa akan menyebabkan pengaruh kepada struktur vegetasi pohon di Hutan Taman Wisata Alam Tirta Rimba Wolio, maka akan berubah. Dengan kata lain kestabilan struktur vegetasi pohon di area ini dikendalikan oleh jenis Barringtonia racemosa.
Berdasarkan beberapa uraian di atas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa, berdasarkan indikator nilai penting, struktur vegetasi di Hutan Taman Wisata Alam Tirta Rimba Wolio menunjukkan struktur yang kurang stabil. Pada strata pohon indeks nilai penting tertinggi diduduki jenis Barringtonia racemosa (Katatolowe), dan jenis yang terendah diduduki oleh spasies Katapi. Hal ini menggambarkan bahwa adaptasi terhadap faktor lingkungan pada masing-masing jenis berbeda. Menurut Kramer dan Kozlowski (1979), pertumbuhan merupakan hasil akhir interaksi dari berbagai proses fisiologis, dan untuk mengetahui mengapa pertumbuhan pohon berbeda pada berbagai variasi keadaan lingkungan, diperlukan bagaimana proses fisiologis dipengaruhi oleh lingkungan. Gleason (1926) Jenis tanggap terhadap kondisi lingkungan secara independen, tidak menghadapinya bersama-sama.
2. Indeks Nilai Penting Masing-Masing Jenis Untuk Tiap Transek Pada Taman Wisata Alam Tirta Rimba Wolio
a. Indeks Nilai Penting Pada Transek I
Pada area hutan taman wisata alam Tirta Rimba Wolio, transek I jenis yang memiliki indeks nilai penting tertinggi yaitu jenis Barringtonia recemosa (INP = 61, 542 %) sedangkan indeks nilai penting terendah yaitu jenis Carinarium balsamiferum (INP = 2,821 %). Distribusi indeks nilai penting pada Transek I disajikan pada Gambar 2.










Gambar 2 : Histogram Indeks Nilai Penting tiap Jenis pada Transek I







b. Indeks Nilai Penting Pada Transek II
Indeks nilai penting tiap jenis struktur pohon pada taransek II yaitu pada jenis Baringtonia recemoisa (INP = 146,001 %) sedangkan indeks nilai penting terendah Mangifera indica L. (INP = 3,875 %). Distribusi indeks nilai penting tiap jenis pada Transek II disajikan pada Gambar 3.










Gambar 3 : Histogram Indeks Nilai Penting tiap Jenis pada Transek II




c. Indeks Nilai Penting Pada Transek III
Indeks nilai penting tiap jenis struktur pohon pada taransek III yaitu pada jenis Arthocarpus elasticus (INP = 102,98 %) sedangkan indeks nilai penting terendah Fagteae recemosa (INP = 4,360 %). Distribusi indeks nilai penting tiap jenis pada Transek III disajikan pada Gambar 4.











Gambar 4 : Histogram Indeks Nilai Penting tiap jenis pada transek III






d. Nilai Penting Pada Transek IV
Pada area Hutan Taman Wisata Alam Tirta Rimba Wolio, Pada taransek IV jenis yang memiliki indeks nilai penting tertinggi yaitu terdapat pada jenis Arthocarpus teysmani (INP = 101,99 %) sedangkan indeks nilai penting terendah Crytocarya (INP = 4,713 %). Distribusi indeks nilai penting pada Transek IV disajikan pada Gambar 5.








Gambar 5 : Histogram Indeks Nilai Penting tiap jenis pada transek IV



Berdasarkan Gambar 5, nampak bahwa pada kawasan Hutan Taman Wisata Alam Tirta Rimba Wolio, jenis yang memiliki indeks nilai penting yang tertinggi terdapat jenis Barringtonia racemosa (INP = 107,109 %), yang terdapat pada transek I, Hal ini mencerminkan bahwa Katatolowe (Barringtonia racemosa) memiliki daya toleransi terhadap faktor lingkungan yang cukup tinggi. Sebagaimana pernyataan Kusmantono (1996) bahwa jenis yang memiliki indeks nilai penting tinggi tampaknya daya toleransi terhadap faktor lingkungan setempat amat baik. Lebih lanjut, Barbour et al. (1999) menjelaskan bahwa jenis yang memiliki indeks nilai penting terbesar dapat memberikan kontribusi terbesar di dalam komunitas itu sebaliknya jika jenis yang memiliki indeks nilai penting terendah kurang memberikan konstribusi dalam suatu komunitas.
D. Indeks Keanekaragaman
Pada Kawasan Hutan Taman Wisata Alam Tirta Rimba Wolio, transek III memiliki indeks keanekaragaman (2,528), jika dibandingkan dengan tiga transek lainnya, hal ini disebabkan kondisi vegetasi pada transek III masih relatif alami. Sedangkan indeks keanekaragaman terendah terdapat pada transek II yaitu 1,431, dimana pada transek ini merupakan jalan masyarakat untuk memasuki Kawasan Hutan Taman Wisata Alam, sehingga kondisi vegetasi pada transek II mengalami kerusakan. Distribusi indeks keanekaragaman pada areal Hutan Taman Wisata Alam Tirta Rimba Wolio Disajikan Pada Gambar 6.








Gambar 6 : Histogram Indeks Keanekaragaman Hutan Taman Wisata Alam Tirta Rimba Wolio


V. P E N U T U P
A. Simpulan
Berdasarkan hasil analisis komposisi dan keanekaragaman vegetasi struktur pohon pada areal Hutan Taman Wisata Alam Tirta Rimba Wolio Kota Madya Bau-Bau Provinsi Sulawesi Tenggara, dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Jumlah jenis yang temukan pada areal Hutan Taman Wisata Alam Tirta Rimba Wolio adalah 26 jenis.
2. Indeks Nilai Penting tertinggi struktur pohon dari keseluruhan transek adalah jenis Baringtonia racemosa (107,109 %), sedangkan INP terendah, yaitu Fagteae racemosa (0,89 %).
3. Indeks keanekaragaman tertinggi pada areal Hutan Taman Wisata Alam Tirta Rimba Wolio terdapat pada Transek III yaitu (2,528) sedangkan indeks keanekaragaman terendah terdapat pada Transek II yaitu (1,431).
B. Saran
Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang komposisi dan Struktur vegetasi golongan pohon pada Hutan Kawasan Taman Wisata Alam Tirta Rimba Wolio serta perlunya ada perhatian pemerintah tentang pemanfaatan hutan dan pemeliharaan kawasan Hutan Taman Wisata Alam Tirta Rimba Wolio Kota Madya Bau-Bau Provinsi Sulawesi Tenggara secara komprentasif.

DAFTAR PUSTAKA
Analuddin, 1997. Analisis Vegetasi pada Beberapa Tegakan di Ngandung Lereng Merapi Kaliurang dan KRPH 19 Banaran, Playen Gunung Kidul Daerah Istimewa Yogyakarta. Skipsi S1 UGM, Yogyakarta.

______, 2002. Struktur dan Dinamika Populasi Maggrove pada Beberapa Tipe Umur Komunitas di Segara Anakan Cilacap jawa Tengah, Tesis Program Pasca Sarjana UGM, Yogyakarta.

Anonim, 2006a. Informasi Kawasan Koservasi Provinsi Sulawesi Tenggara, BKSDA Sultra. Kendari

Bazzaz, F.A., and Picket, S.T. A, 1980. Physiological Ecology of Trophical Succession A Comparison Review, Ann. Rev, Ecol Syst.

Barbour, M. G., Burk, J. H and Pitts, W. D., 1999. Teresterial Plant Ecology, Third Edition, California, U. S. A.

Hardjosuwarno, S., 1989. Ekologi Tumbuhan, Fakultas Biologi UGM, Yogyakarta.

Hardjosuwarno, S., 1990. Dasar-Dasar Ekologi Tumbuhan, Fakultas Biologi UGM, Yogyakarta.

Junus, M., 1989. Dasar Umum Ilmu Kehutanan (Jilid I dan II). Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Indonesia, Ujung Pandang.

Kusmantono, 1996. Komposisi dan Struktur Komunitas Pohon di Beberapa Daerah Tepi Taman Nasional Gunumg Halimun dan Pengaruhnya Terhadap Tumbuhan Bawah. Tesis Program Pasca Sarjana Universitas Indonesia, Jakarta.

Loveless, A. R, 1989. Prinsip Biologi Tumbuhan Untuk Daerah Tropika (Terjemahan Kartawinata, K), Garmedia Jakarta.

Martikainen, 2000. Petujuk Teknis Survei Pohon dan Topografi. Departemen Kehutanan, European Union

Muller – Dombois, D dan Ellenberg, H., 1974. Aims and Method of Vegetation Ecology, John Willey and Sons, New York.

Odum, E. P., 1993. Dasar-Dasar Ekologi. (Terjemahan Samingan). Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Polunin, N., 1990. Pengantar Geografi Tumbuhan dan Beberapa Ilmu Serumpun. (Terjemahan Tjitrosoepomo, G.). Gadjah mada University Press, Yogyakarta.

Soegianto, A. 1994. Ekologi Kuantitatif. Usaha Nasional. Jakarta.
Suryabrata, S., 1983. Metodologi Penelitian. Rajawali, Jakarta.
Suwarsono, H., 1986. Pengantar Ekologi. Universitas Brawijaya, Malang.
Steenis, Van, C. G. G. J., 1987. Flora Untuk di Sekolah. PT. Pradnya Paramita. Jakarta.

Hildebran (1950)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar