Kamis, 29 Oktober 2009

Laporan Ekwan

Tugas

EKOLOGI HEWAN


Oleh :

LA ODE MUHAMMAD ERIF

F1D1 05 055

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU DAN PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS HALUOLEO

KENDARI

2009

I. PENDAHULUAN

Segala sesuatu didunia ini saling berhubungan satu dengan yang lainnya, yaitu hubungan antara manusia dengan manusia, antara manusia dengan *hewan*, antara manusia dengan tumbuh-tumbuhan, dan bahkan antara manusia dengan dengan benda-benda mati. Demikian pula antara hewan dengan hewan, antara hewan dengan tumbuh-tumbuhan, antara hewan dengan manusia dan antara hewan dengan benda-benda mati disekelilingnya. Sesuatu peristiwa yang menimpa diri manusia dapat disimpulkan sebagai akibat dari berbagai pengaruh disekitarnya, sehingga berkembanglah apa yang disebut sebagai ECOLOGY yaitu ilmu yang mempelajari hubungan antara satu organisme dengan yang lainnya, dan antara organisme.

Pelestarian Lingkungan Hidup Manusia Bagi Bangsa Bangsa Di Dunia tersebut dengan lingkungannya. Secara etimologi ecology berasal dari oikos (rumah tangga) dan logos (ilmu) yang diperkenalkan untuk pertama kalinya oleh seorang biolog Jerman Ernst Hackel (1869) sehingga pada mulanya istilah ecology adalah diperuntukan bagi biologi.William H Matthews seperti dikutip oleh Koesnadi Hardjasoemantri dalam buku beliau Hukum Tata Lingkungan menyatakan bahwa ecology focuses the interrelationship between living organisme and their environment. Sedangkan menurut Otto Soemarwoto ekologi adalah ilmu tentang hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Studi ekologi meliputi berbagai bidang seperti :

1. Studi ekologi sosial, sebagai suatu studi terhadp relasi sosial yang berada ditempat tertentu dan dalam waktu tertentudan yang terjadinya oleh tenaga-tenaga lingkungan yang bersifat selektif dan distributif.

2. Studi ekologi manusia sebagai suatu studi tentang interaksi antara aktivitas manusia dan kondisi alam.

3. Studi ekologi kebudayaan sebagai suatu studi tentang hubungan timbal balik antara variabel habitat yang paling relevan dengan inti kebudayaan.

4. Studi ekologi fisis sebagai suatu studi tentang lingkungan hidup dan sumber daya alamnya.

5. Studi ekologi biologis sebagai suatu studi tentang hubungan timbal balik antara mahluk hidup, terutama hewan dan tumbuh-tumbuhan, dan lingkungannya. (Koesnadi Hardjasoemantri, 1999 : 2) Gambaran menyeluruh kehidupan yang ada pada suatu lingkungan tertentu dan pada saat tertentu disebut sebagai biotic community atau masyarakat organisme hidup, dimana dalam biotic comunity itu terdapat suatu fenomena khusus yang dinamakan


II. TINJAUANN PUSTAKA

Pembahasan ekologi tidak lepas dari pembahasan ekosistem dengan berbagai komponen penyusunnya, yaitu faktor abiotik dan biotik. Faktora biotik antara lain suhu, air, kelembapan, cahaya, dan topografi, sedangkan faktor biotik adalah makhluk hidup yang terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroba. Ekologi juga berhubungan erat dengan tingkatan-tingkatan organisasi makhluk hidup, yaitu populasi, komunitas, dan ekosistem yang saling mempengaruhi dan merupakan suatu sistem yang menunjukkan kesatuan. Faktor Biotik Faktor biotik adalah faktor hidup yang meliputi semua makhluk hidup di bumi, baik tumbuhan maupun hewan. Dalam ekosistem, tumbuhan berperan sebagai produsen, hewan berperan sebagai konsumen, dan mikroorganisme berperan sebagai dekomposer. Faktor biotik juga meliputi tingkatan-tingkatan organisme yang meliputi individu, populasi, komunitas, ekosistem, dan biosfer. Tingkatan-tingkatan organisme makhluk hidup tersebut dalam ekosistem akan saling berinteraksi, saling mempengaruhi membentuk suatu sistemyang menunjukkan kesatuan. Secara lebih terperinci, tingkatan organisasi makhluk hidup adalah sebagai berikut. Perhatikan Gambar. /Gbr. Tingkatan Organisasi Makhluk Hidup


A. Individu

Individu merupakan organisme tunggal seperti : seekor tikus, seekor kucing, sebatang pohon jambu, sebatang pohon kelapa, dan seorang manusia. Dalam mempertahankan hidup, seti jenis dihadapkan pada masalah-masalah hidup yang kritis. Misalnya, seekor hewan harus mendapatkan makanan, mempertahankan diri terhadap musuh alaminya, serta memelihara anaknya. Untuk mengatasi masalah tersebut, organisme harus memiliki struktur khusus seperti : duri, sayap, kantung, atau tanduk. Hewan juga memperlihatkan tingkah laku tertentu, seperti membuat sarang atau melakukan migrasi yang jauh untuk mencari makanan. Struktur dan tingkah laku demikian disebut

B. Adaptasi.

Ada bermacam-macam adaptasi makhluk hidup terhadap lingkungannya, yaitu: adaptasi morfologi, adaptasi fisiologi, dan adaptasi tingkah laku.

1. Adaptasi morfologi

Adaptasi morfologi merupakan penyesuaian bentuk tubuh untuk kelangsungan hidupnya. Contoh adaptasi morfologi, antara lain sebagai berikut.

a. Gigi-gigi khusus Gigi hewan karnivora atau pemakan daging beradaptasi menjadi empat gigi taring besar dan runcing untuk menangkap mangsa, serta gigi geraham dengan ujung pemotong yang tajam untuk mencabik-cabik mangsanya.

b. Moncong Trenggiling besar adalah hewan menyusui yang hidup di hutan rimba Amerika Tengah dan Selatan. Makanan trenggiling adalah semut, rayap, dan serangga lain yang merayap. Hewan ini mempunyai moncong panjang dengan ujung mulut kecil tak bergigi dengan lubang berbentuk celah kecil untuk mengisap semut dari sarangnya. Hewan ini mempunyai lidah panjang dan bergetah yangdapat dijulurkan jauh keluar mulut untuk menangkap serangga.

c. Paruh Elang memiliki paruh yang kuat dengan rahang atas yang melengkung dan ujungnya tajam. Fungsi paruh untuk mencengkeram korbannya.

d. Daun Tumbuhan insektivora (tumbuhan pemakan serangga), misalnya kantong semar, memiliki daun yang berbentuk piala dengan permukaan dalam yang licin sehingga dapat menggelincirkan serangga yang hinggap. Dengan enzim yang dimiliki tumbuhan insektivora, serangga tersebut akan dilumatkan, sehingga tumbuhan ini memperoleh unsur yang diperlukan.

e. Akar Akar tumbuhan gurun kuat dan panjang,berfungsi untuk menyerap air yang terdapat jauh di dalam tanah. Sedangkan akar hawa pada tumbuhan bakau untuk bernapas.

2. Adaptasi fsiologi

Adaptasi fisiologi merupakan penyesuaian fungsi fisiologi tubuh untuk mempertahankan hidupnya. Contohnya adalah sebagai berikut.

a. Kelenjar bau Musang dapat mensekresikan bau busukdengan cara menyemprotkan cairan melalui sisi lubang dubur. Sekret tersebut berfungsi untuk menghindarkan diri dari musuhnya.

b. Kantong tinta Cumi-cumi dan gurita memiliki kantong tinta yang berisi cairan hitam. Bila musuh datang, tinta disemprotkan ke dalam air sekitarnya sehingga musuh tidak dapat melihat kedudukan cumi-cumi dan gurita

c. Mimikri pada kadal Kulit kadal dapat berubah warna karena pigmen yang dikandungnya. Perubahan warna ini dipengaruhi oleh faktor dalam berupa hormon dan faktor luar berupa suhu serta keadaan sekitarnya.

3. Adaptasi tingkah laku

Adaptasi tingkah laku merupakan adaptasi yang didasarkan pada tingkah laku. Contohnya sebagai berikut

a. Pura-pura tidur atau mati Beberapa hewan berpura-pura tidur atau mati, misalnya tupai Virginia. Hewan ini sering berbaring tidak berdaya dengan mata tertutup bila didekati seekor anjing.

b. Migrasi Ikan salem raja di Amerika Utara melakukan migrasi untuk mencari tempat yang sesuai untuk bertelur. Ikan ini hidup di laut. Setiap tahun, ikan salem dewasa yang berumur empat sampai tujuh tahun berkumpul di teluk disepanjang Pantai Barat Amerika Utara untuk menuju ke sungai. Saat di sungai, ikan salem jantan mengeluarkan sperma di atas telur-telur ikan betinanya. Setelah itu ikan dewasa biasanya mati. Telur yang telah menetas untuk sementara tinggal di air tawar. Setelah menjadi lebih besar mereka bergerak ke bagian hilir dan akhirnya ke laut.

Populasi Kumpulan individu sejenis yang hidup padasuatu daerah dan waktu tertentu disebut populasi Misalnya, populasi pohon kelapa dikelurahan Tegakan pada tahun 1989 berjumlah 2552 batang. Ukuran populasi berubah sepanjang waktu. Perubahan ukuran dalam populasi ini disebut dinamika populasi. Perubahan ini dapat dihitung dengan menggunakan rumus perubahan jumlah dibagi waktu. Hasilnya adalah kecepatan perubahan dalam populasi. Misalnya, tahun 1980 populasi Pinus di Tawangmangu ada 700 batang. Kemudian pada tahun 1990 dihitung lagi ada 500 batang pohon Pinus. Dari fakta tersebut kita lihat bahwa selama 10 tahun terjadi pengurangan pohon pinus sebanyak 200 batang pohon. Untuk mengetahui kecepatan perubahan maka kita membagi jumlah batang pohon yangberkurang dengan lamanya waktu perubahan terjadi : 700 - 500 = 200 batang 1990 -1980 10 tahun = 20 batang/tahun Dari rumus hitungan di atas kita dapatkan kesimpulan bahwa rata-rata berkurangnya pohon tiap tahun adalah 20 batang. Akan tetapi, perlu diingat bahwa penyebab kecepatan rata-rata dinamika populasi ada berbagai hal. Dari alam mungkin disebabkan oleh bencana alam, kebakaran, serangan penyakit, sedangkan dari manusia misalnya karena tebang pilih. Namun, pada dasarnya populasi mempunyai karakteristik yang khas untuk kelompoknya yang tidak dimiliki oleh masing-masing individu anggotanya. Karakteristik iniantara lain : kepadatan /(densitas), /laju kelahiran /(natalitas), /laju kematian /(mortalitas), potensi biotik, penyebaran umur, dan bentuk pertumbuhan. Natalitas danmortalitas merupakan penentu utama pertumbuhan populasi. Dinamika populasi dapat juga disebabkan imigrasi dan emigrasi. Hal ini khusus untuk organisme yang dapat bergerak, misalnya hewan dan manusia.

Imigrasi adalah perpindahan satu atau lebih organisme kedaerah lain atau peristiwa didatanginya suatu daerah oleh satu atau lebih organisme; didaerah yang didatangi sudah terdapat kelompok dari jenisnya. Imigrasi ini akan meningkatkan populasi. Emigrasi adalah peristiwa ditinggalkannya suatu daerah oleh satu atau lebih organisme, sehingga populasi akan menurun. Secara garis besar, imigrasi dan natalitas akan meningkatkan jumlah populasi, sedangkan mortalitas dan emigrasi akan menurunkan jumlah populasi. Populasi hewan atau tumbuhan dapat berubah, namun perubahan tidak selalu menyolok. Pertambahan atau penurunan populasi dapat menyolok bila ada gangguan drastis dari lingkungannya, misalnya adanya penyakit, bencana alam, dan wabah hama.

C. Komunitas

Komunitas ialah kumpulan dari berbagai populasi yang hidup pada suatu waktu dan daerah tertentu yang saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain. Komunitas memiliki derajat keterpaduan yang lebih kompleks bila dibandingkan dengan individu dan populasi. Dalam komunitas, semua organisme merupakan bagian dari komunitas dan antara komponennya saling berhubungan melalui keragaman interaksinya.

D. Ekosistem

Antara komunitas dan lingkungannya selalu terjadi interaksi. Interaksi ini menciptakan kesatuan ekologi yang disebut ekosistem. Komponen penyusun ekosistem adalah produsen (tumbuhan hijau), konsumen (herbivora, karnivora, dan omnivora), dan dekomposer/pengurai (mikroorganisme). Faktor Abiotik Faktor abiotik adalah faktor tak hidup yang meliputi faktor fisik dan kimia. Faktor fisik utama yang mempengaruhi ekosistem adalah sebagai berikut.

a. Suhu Suhu berpengaruh terhadap ekosistem karena suhu merupakan syarat yang diperlukan organisme untuk hidup. Ada jenis-jenis organisme yang hanya dapat hidup pada kisaran suhu tertentu.

b. Sinar matahari Sinar matahari mempengaruhi ekosistem secara global karena matahari menentukan suhu. Sinar matahari juga merupakan unsur vital yang dibutuhkan oleh tumbuhan sebagai produsen untuk berfotosintesis.

c. Air Air berpengaruh terhadap ekosistem karena air dibutuhkan untuk kelangsungan hidup organisme. Bagi tumbuhan, air diperlukan dalam pertumbuhan, perkecambahan, dan penyebaran biji; bagi hewan dan manusia, air diperlukan sebagai air minum dan sarana hidup lain, misalnya transportasi bagi manusia, dan tempat hidup bagi ikan. Bagi unsur abiotik lain, misalnya tanah dan batuan, air diperlukan sebagai pelarut dan pelapuk.

d. Tanah Tanah merupakan tempat hidup bagi organisme. Jenis tanah yang berbeda menyebabkan organisme yang hidup didalamnya juga berbeda. Tanah juga menyediakan unsur-unsur penting bagi pertumbuhan organisme, terutama tumbuhan.

e. Ketinggian Ketinggian tempat menentukan jenis organisme yang hidup di tempat tersebut, karena ketinggian yang berbeda akan menghasilkan kondisi fisik dan kimia yang berbeda.

f. Angin Angin selain berperan dalam menentukan kelembapan juga berperan dalam penyebaran biji tumbuhan tertentu.

g. Garis lintang Garis lintang yang berbeda menunjukkan kondisi lingkungan yang berbeda pula. Garis lintang secara tak langsung menyebabkan perbedaan distribusi organisme di permukaan bumi


STUDI EKOLOGI HEWAN PERINDUKAN NYAMUK VEKTOR MALARIA DI ESA WAYMULI, KECAMATAN RAJABASA LAMPUNG SELATAN, JURUSAN BIOLOI F.MIPA UNIVERSITAS LAMPUNG.

ABSTRAK

Malaria adalah penyakit yang dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu parasit/plasmodium (agent), faktor manusia (host), nyamuk Anopheles (vektor) dan linkungan (environment). Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui faktor *ekologi* (fisisk, kima, dan biologi) tempat perindukan larva nyamuk vektor malaria. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni September 2007 di Desa way Muli, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan. Stasiun pengamatan 1 berupa selokan air mengalir, sasiun pengamatan 2 adalah rawa dan stasiun pengamatan 3 adalah selokan air tergenang. Penghitungan jumlah larva dilakukan di Laboratoriun Zoologi Jurusan Biologi FMIPA Universitas Lampung. Hasil penelitian pada tempat perindukan nyamuk adalah suhu tertinggi 33,5°C, salinitas 0°, pH berkisar 6-7, sedangkan warna iar tertinggi 39,27 mgPtCo dirawa, DO berkisar 5,3-6,4 mg/L. Jenis tumbuhan disekitar tempat perindukan nyamuk ditemukan bandotan (Ageratum conicoides), bakau (Avicinnea sp),kelapa (Cocos musifera) dan pohon pisang (Musa paradiciaca). Pada selokan air tergenang tidak terdapat tumbhan. Hewan air pada selokan air mengalir didominasi oleh ikan cere (Gambusia affinis). Pada rawa adalah ikan kepala timah, ikan cere, ikan mujair, udang, kecebong, anggang-anggang,dan nympha capung. Sedang pada selokan air tergenang tidan didapatkan hewan air. Kepadatan larva tertinggi pada selokan air tergenang.


1. PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah Penyakit malaria sebagai salah satu penyakit infeksi disebabkan oleh infeksi protozoa dari genus Plasmodium, yang ditularkan dari orang ke orang melalui gigitan nyamukAnopheles betina (Depkes RI, 2001). Penularan malaria dipengaruhi beberapa faktor yaitu faktor parasit (plasmodium), faktor manusia (host), faktor nyamuk Anopheles (vektor), dan faktor lingkungan (Soejoeti, 1995). Nyamuk Anopheles merupakan salah satu jenis vektor dari penyakit malaria yang sudah meluas hampir di seluruh propinsi di Indonesia. Pada tahun 2002, terdapat tiga Puskesmas di wilayah Lampung Selatan dan Pesawaran mempunyai angka kejadian malaria yang tinggi, yaitu di desa Hanura 97,59 %, desa Pidada 66 %, dan Desa Way Muli 27 % (Sahli, 2003). Untuk prevalensi ( kasus penyakit malaria ) di Desa Way Muli memang cukup tinggi, sehingga desa ini dapat dinyatakan sebagai daerah endemik malaria (Puskesmas Way Muli, 2006). Desa Way Muli, Lampung Selatan adalah salah satu daerah endemis malaria dengan kondisi sebagian besar penduduk tingkat ekonomi rendah, pengetahuan tentang kesehatan lingkungan sangat rendah, sanitasi lingkungan terutama di rumah-rumah penduduk kurang baik. Banyak genangan air akibat saluran air yang tidak lancar merupakan tempat yang potensial sebagai tempat perindukan nyamuk vektor malaria.

Seminar Hasil Penelitian & Pengabdian kepada Masyarakat, Unila, 2008/293 Lingkungan fisik dan biologi seperti suhu udara, kelembaban, intensitas cahaya, arus air, tumbuh-tumbuhan air dan tumbuhan-tumbuhan pelindung, serta ikan predator juga merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi kehidupan larva nyamuk dan penyebarannya, sehingga akan mempengaruhi keseimbangan populasi nyamuk di alam (Depkes RI, 2001). Mengingat pentingnya kondisi lingkungan tersebut terhadap kehidupan larva dan penyebaran nyamuk vektor malaria, maka perlu dilakukan penelitian dengan mengamati aspek ekologi tempat perindukan nyamuk. Data ini penting sebagai informasi dalam upaya penanggulangan malaria.

Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi ekologi tempat perindukan larva nyamuk vektor malaria berupa faktor fisik, kimia, dan biologi di Desa Way Muli Kecamatan Rajabasa Kalianda Kabupaten Lampung Selatan.

Manfaat Penelitian enelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai informasi di dalam penanggulangan nyamuk vektor penyebab penyakit malaria.

Waktu dan Tempat Penelitian, nelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni - September 2007 di desa Way Muli Kecamatan Rajabasa Kabupaten Lampung Selatan untuk pengamatan faktor ekologi dan pengambilan larva. Sedangkan penghitungan jumlah larva dilakukan di Laboratorium Zoologi FMIPA Universitas Lampung.

Metode Penelitian, Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survei pada daerah endemik malaria di Desa Way Muli, Kalianda Kabupaten Lampung Selatan. Pengamatan langsung dilaksanakan di tempat-tempat perindukan larva nyamuk. Hasil penelitian disajikan dalam bentuk deskriptif yang menggambarkan kondisi ekologi pada tempat perindukan nyamuk vektor malaria.


Cara Kerja

1. Penentuan Tempat Perindukan Larva Nyamuk Vektor Sebelum penelitian ini dilaksanakan, terlebih dahulu dilakukan survei pendahuluan. Survei ini dilakukan untuk menentukan tempat-tempat perindukan larva nyamuk Anopheles sp. yang selanjutnya disebut stasiun pengamatan. Stasiun pengamatan 1 berupa selokan dengan kondisi air mengalir yang memiliki panjang 20 m dan lebar 15 cm. Stasiun pengamatan 2 berupa rawa dengan panjang 300 m dan lebar 5 m. Sedangkan stasiun 3 berupa selokan dengan air tergenang memiliki panjang 20 m dan lebar 30 cm. Stasiun pengamatan ini ditentukan berdasarkan ada tidaknya larva /Anopheles /sp. pada tempat-tempat yang berpotensi sebagai tempat perindukan nyamuk vektor.

2. Pengamatan Faktor-faktor Ekologi Meliputi pengamatan Abiotik dan Biotik.

a. Pengamatan Abiotik meliputi ; Suhu Air, pH Air, Salinitas Air , Kecerahan , Kedalaman Air. Dasar air, Warna Air, Oksigen terlarut (DO).

b. Pengamatan faktor biotik meliputi :

1. Jenis tumbuhan yang hidup di dalam perairan. Setiap tumbuhan yang hidup di sekitar tempat perindukan difoto dan diambil sampelnya untuk diidentifikasi di laboratorium Zoologi.

2. Jenis hewan lain yang hidup di daerah perindukan nyamuk Sampel air diambil dan diamati jenis hewan apa saja yang ada di perairan tersebut.

3. Kepadatan larva nyamuk selain anopheles Larva nyamuk diambil dari genangan air dengan menggunakan gayung, kemudian dituangkan ke dalam kantung plastik untuk dihitung kepadatannya. Setiap titik pengambilan sampel diambil 3 kali ulangan. Larva nyamuk yang diperoleh dari tiap titik dihitung dengan menggunakan rumus yang dipergunakan Depkes RI (1999) : Kepadatan larva = Jumlah larva yang didapat Jumlah cidukan Volume 1 cidukan = 250 ml


HASIL DAN PEMBAHASAN

  1. Faktor Abiotik di Tempat Perindukan Nyamuk Anopheles sp. Hasil pengukuran faktor abiotik (fisik dan kimia) pada tempat perindukan larva nyamuk Anopheles sp. berupa suhu, pH, salinitas, kedalaman, dasar air, warna air, kecerahan, DO, kelembaban udara pada masing-masing stasiun pengamatan berbeda, data selengkapnya disajikan pada tabel 1. Tabel 1. Faktor fisik dan kimia tempat perindukan larva nyamuk. Stasiun Pengamatan I (Selokan Air Mengalir), 2 (Rawa) 3 (Selokan Air Tergenang) Suhu air ( oC) 33,5 33,25 32 Ph air 6 6 7 Salinitas o / oo 0 0 0 Kedalaman (cm) 15 100 25 Dasar air Lumpur Lumpur Lumpur Warna air (mgPtCo) 36,24 39,27 38,92 Kecerahan (cm) 0 20 0 DO (/Disolved Oxygen/) (mg/L) 6,3 6,4 5,3 Kepadatan Larva (ekor/250ml) 12,17 6,62 464,25 Kelembaban udara (%) 81,6 81,6 81,62. Faktor Biotik di Tempat Perindukan Nyamuk /Anopheles sp. Selain faktor-faktor abiotik, faktor biologi juga diamati di tempat perindukan nyamuk. Faktor biotik yang diamati meliputi tumbuhan sebagai produsen dan *hewan* air sebagai konsumen yang terdapat di sekitar perindukan
  2. Faktor Biotik di Tempat Perindukan Nyamuk Anopheles sp. diketahui bahwa pada selokan air tergenang memiliki jumlah kepadatan larva nyamuk yang tinggi dibandingkan dengan selokan air mengalir dan rawa. Hal tersebut diduga karena pada kedua tempat perindukan terdapat hewan air yang berpotensi sebagai predator larva nyamuk. Tidak ditemukannya hewan air pada selokan air tergenang menyebabkan kepadatan larva nyamuk pada selokan ini paling tinggi, karena larva dapat hidup bebas tanpa adanya ancaman dari hewan akuatik yang berpotensi sebagai predator. Menurut Anonim B (2006) populasi semua organisme pada semua tingkatan dapat menurun karena aksi alami dari predator. Predator dapat menurunkan suatu populasi dengan cara memakan mangsanya (Campbell, 2004) atau membunuh binatang lain yang lebih kecil dan lemah (Anonim B, 2006). Pada selokan air mengalir dan rawa ditemukan adanya tumbuhan pelindung dengan kepadatan larva nyamuk yang lebih rendah dibandingkan dengan selokan air tergenang. Adanya tumbuhan di sekitar perairan akan mempengaruhi keberadaan oksigen yang dibutuhkan oleh biota perairan tersebut untuk hidup (Effendi, 2003) sehingga hal ini memungkinkan *hewan* air seperti ikan kepala timah, ikan cere, udang dan ikan mujair dapat hidup dengan baik pada selokan air mengalir dan rawa akan memangsa larva yang terdapat di habitat yang sama (Depkes RI, 2001). Berdasarkan hasil pengukuran, pada selokan air tergenang memiliki kepadatan larva nyamuk 464,25 ekor/250ml, lebih tinggi dibandingkan dengan selokan air mengalir (12,17 ekor/250ml) dan rawa (6,62 ekor/250ml). Tingginya kepadatan larva nyamuk pada selokan air tergenang diduga karena musuh alami atau predator pada stasiun ini tidak ada, sehingga produktivitas larva tinggi. Dalam ekosistem yang dikemukakan oleh Odum (1993) ada rantai makanan dan jaring makanan pada konsep keseimbangan. Sebagai konsumen primer, larva nyamuk akan dimakan oleh konsumen sekunder seperti ikan dan ikan akan dimakan oleh konsumen berikutnya atau mati dan diuraikan oleh dekomposer. Keseimbangan akan terganggu bila rantai makanan atau jaring makanan terputus. Kepadatan larva /Anopheles /sp. berkurang dengan bertambahnya jumlah ikan yang terdapat di tempat perindukan. Ikan yang terdapat pada daerah bekas tambak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar